SISTEM PERDAGANGAN HASIL PERTANIAN DITINGKAT REGIONAL

DISUSUN OLEH:

PURBOWO               120321100100

PRODI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2012

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

  1. 1.    LATAR BELAKANG

Sebagai satu bangsa dan negara besar dengan pemilikan sumber daya alam yang melimpah, kita sudah sepakat bahwa pembangunan nasional harus mampu memanfaatkan sumber daya yang kita miliki untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk mencapai tujuan tersebut pembangunan harus dapat mewujudkan perekonomian yang terus mengalami pertumbuhan yang tercermin pada peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat.

Perekonomian yang berjalan tanpa pertumbuhan, atau dengan pertumbuhan tetapi hanya dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat, dapat mengakibatkan memburuknya kesejahteraan masyarakat, yang kemudian dapat memicu terjadinya kekacauan sosial.  Situasi seperti ini telah pernah kita alami pada waktu yang lalu, bahkan akhir-akhir ini.

Arti penting sektor perdagangan hasil pertanian secara luas meliputi kesepahaman konsep pembangunan yang direncanakan dengan pelaksanaannya. Selanjutnya, pembangunan harus dapat menghasilkan perubahan  struktural yang seimbang.

Perubahan struktural terus terjadi pada perekonomian Indonesia, akan tetapi perubahan yang terjadi menghasilkan adanya ketimpangan antarsektor yang kemudian menumbuhkan struktur ekonomi yang rapuh;  struktur ekonomi yang dapat dengan mudah dipengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi di suatu sektor tanpa dapat digantikan oleh sektor lainnya. Sebagai contoh, pembangunan industri yang kurang memperhatikan dan memanfaatkan sumber daya alam dan hasil pertanian yang melimpah yang kita miliki, dengan mudah tergoyang oleh perubahan-perubahan yang terjadi di dunia luar.

Harus diakui bahwa pembangunan pada masa lalu, pada tingkat regional telah berhasil mengembangkan dan menyerap tenaga kerja yang terus tumbuh, mengurangi jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, dan menjaga stabilitas makro-ekonomi nasional. Dengan beban seperti itu, sektor pertanian sampai saat ini masih memiliki tingkat produktivitas yang rendah, memberikan pendapatan yang memiliki perbedaan  yang besar dengan sektor lainnya, dan sekarang malahan menghadapi hantaman persaingan produk dari pasar luar negeri.

 

Pembangunan juga harus dapat membentukperdagangan yang sehat yaitu perdagangan yang mampu menjaga kesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pertumbuhan perdagangan yang kurang merata dan perubahan struktur ekonomi yang tidak seimbang, tidak akan dapat memanfaatkan sumber daya secara optimal, atau bahkan merusaknya, menghasilkan tingkat kemiskinan yang tinggi, dan mudah hancur oleh pengaruh dari luar. Keadaan seperti itu akan meninggalkan dan mewariskan beban dan bukan hasil pertumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan bagi  generasi mendatang.

Dengan demikian, di masa depan kita dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang dinamis menuju perubahan struktur yang seimbang, meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan, tanpa merusak sumber daya alam dan lingkungan. Angan-angan tersebut masih valid berdasarkan konstitusi dan fakta empiris tentang urgensi sektor agribisnis sebagai sektor andalan, maupun peranannya dalam perekonomian Indonesia.

PEMBAHASAN

  1. 1.    DEFINISI
    1. Secara bahasa sistem berasal dari bahasa yunanai sustēma yang memiliki arti suatu kesatuan yang terdiri komponen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi
    2. Secara istilah merupakan suatu susunan bagian-bagian perdagangan yang memiliki hubungan satu sama lain di suatu daerah/provinsi tertentu yang memiliki item penggerak dan berbasis pertanian.

 

 

  1. 2.    KEGUNAAN

Kegunaan sistem perdagangan hasil pertanian di tingkat regional diantaranya sebagai berikut:

  1. Dapat meningkatkan kesejahteraan hasil pertanian ditingkat provinsi.
  2. Meningkatkan produksi hasil pertanian masyarakat.
  3. Meningkatkan pendapatan daerah.
  4. 3.    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
    1. a.    Faktor produksi modal

Dalam arti sehari-hari, modal sama artinya dengan harta kekayaan seseorang. Yakni merupakan semua harta berupa uang, tabungan, tanah, rumah, mobil dan lain sebagainya yang dimiliki. Modal tersebut dapat mendatangkan penghasiln bagi si pemilik modal, tergantung pada usahanya dan penggunaan modalnya.

 

  1. b.    Faktor produksi tenaga kerja

Berbicara masalah tenaga kerja di Indonesia dan juga sebagian besar negar-negara berkembang termasuk Negara maju pada mulanya merupakan tenaga yang dicurahkan untuk usaha tani sendiri sendiri atau usaha keluarga. Keadaan ini berkembang dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia dan semakin majunya usaha pertanian, sehingga dibutuhkan tenaga kerja diluar keluarga yang khusus dibayar sebagai tenaga kerja upahan. Tenaga kerja upahan ini biasanya terdapat pada usaha pertanian yang berskala luas, rutin (bukan musiman), memiliki administrasi dan manajemen yang tertib dan terencana. Tetapi dewasa ini terjadi lagi perkembangan baru, ketika tenaga kerja upahan tidak lagi hanya terdapat pada usaha pertanian yang luas seperti diatas. Tetapi sudah meluas pada usaha tani kecil skala keluarga seperti usaha tani padi sawah yang tadinya hanya mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga atau famili dan keluarga tolong menolong atau gotong royong saja. Perkembangan ini terjadi karena terjadinya perubahan struktural, yaitu transformasi tenaga kerja dari sektor pertanian pedesaan ke sektor industri diperkotaan. Hal ini picu oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat yang diawali dengan pertumbuhan industri.

 

  1. c.    Faktor pengelolaan

Pengelolaan usaha tani adalah petani bertindak sebagai pengelola atau manajer dari usahanya. Dalam hal ini ia harus pandai mengorganisasi penggunaan faktor-faktor produksi yang dikuasai sebaik mungkin untuk memperoleh produksi secara maksimal. Karena mungkin untuk memperoleh produksi dan produktivitas usaha tani merupakan tolok ukur keberhasilan pengelolaan. Oleh sebab itu  pengelolaan atau manajemen menjadi sangat penting karena selain produktivitas, ia sekaligus juga menentukan tingkat efisiensi dari usaha tani yang dikelola. Bila faktor produksi tanah, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja dan modal dirasa cukup tetapi tidak dikelola dengan baik, maka peningkatan produksi tidak akan tercapai serta usaha tani tidak efisien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

Daniel, Moehar. 2004. Pengantar ekonomi pertanian. Jakarta: PT Bumi Aksara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s