PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PUPUK CAIR

 

Disusun Oleh:

Purbowo, M. Lauchil Mahfud, Eka Nia Juniarti

 

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

 

Abstrak

Dalam mengkonsumsi buah pisang tentu saja menghasilkan limbah berupa kulit pisang yang tidak termanfaatkan secara efisien, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan berupa pembuatan pupuk cair yang lebih bernilai biologis terhadap produk pertanian dan bernilai ekonomis terhadap pendapatan masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengetahui proses pembuatan  pupuk cair dari limbah kulit pisang dan proses pengemasannya dalam peningkatan mutu dan nilai jual.Proses pembuatan pupuk cair diawali dengan mengumpulkan bahan utama dan menyediakan mesin pencacah. Kemudian melakukan proses pembuatan dengan mencampurkan cacahan limbah kulit pisang, bioaktivator, gula dan air yang berada pada ember ke dalam drum plastik, kemudian menutupnya dengan rapat. Perlakuan ini berlangsung 7 hari dengan mengaduknya setiap hari selama 15 menit serta dilakukan pengamatan terhadap warna dan bau untuk menentukan berhasil tidaknya proses pembuatan pupuk cair tersebut. Pembuatan pupuk ini dikatakan berhasil apabila warna menjadi coklat dan tidak berbau menyengat.Tahap pengemasan (Packing) diawali dengan menyiapkan bahan berupa botol plastik, label dan segel. Kemudian  menentukan  volume setiap botol, lalu mengisinya. Dilanjutkan dengan menutup, memberi label serta segel pada tutup botol. Hal ini dilakukan untuk menghindari tindakan pemalsuan produk.

 

Kata kunci: Pisang, kulit pisang, pupuk cair.

 

Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia tenggara yang sebagian besar kondisi tanahnya subur serta memiliki iklim tropiskarena terletak di antara 6º LU – 11º LS dan 95º BT – 141º BT, antara lautan Pasifik dan lautan Hindi, antara benua Asia dan benua Australia, dan pada pertemuan dua rangkaian pergunungan, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterranean, sehingga cocok untuk lahan budidaya pertanian terutama jenis buah-buahan. (Wikipedia, 2012 )

Buah merupakan salah satu kebutuhan pokok dari slogan “Empat sehat lima sempurna.”, meskipun keberadaannya bukan utama namun peranan buah bagi kesehatan sangat besar. Hal ini dikarenakan buah mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia sebagai antibodi terhadap serangan penyakit. Buah dapat tumbuh dan berkembang secara optimal apabila dapat menyesuaikan hidupnya dengan habitatnya. Berdasarkan habitatnya buah-buahan di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua yaitu pada dataran tinggi dan pada dataran rendah. Contoh buah-buahan yang habitatnya pada dataran tinggi yaitu apel, jeruk dan pear, sedangkan buah-buahan yang habitatnya pada dataran rendah yaitu nangka, mangga, pisang. (Ashari Sumeru, 2004)

Sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih buah pisang untuk dibudidayakan, hal ini dikarenakan proses pertumbuhannya yang sederhana yaitu tidak terlalu membutuhkan banyak perawatan khusus seperti buah-buahan lainnya, sehingga meminimalisir biaya produksi yang mengakibatkan bertambahnya keuntungan. Selain itu peluang bisnis buah pisang lebih unggul dikarenakan memiliki daya simpan  yang lebih lama bila dipanen pada masa tua sebelum masak dari pohonnya. Disisi lain buah pisang dapat diolah menjadi anekah makanan olahan baik basa maupun kering. (Rukmana Rahmat, 1999)

Secara medis buah pisang dapat membantu kegiatan perut manusia berupa melancarkan buang air besar (BAB) karena serat alaminya serta mencegah sariawan dengan kandungan vitamin C-nya. Pada dasarnya mengkonsumsi buah pisang dapat dilakukan dengan dua cara yakni secara langsung maupun secara tidak langsung. Namun dari segi agribisnis buah pisang dikonsumsi secara tidak langsung yakni dengan mengolahnya terlebih dahulu agar menjadi berbagai produk  yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan tanpa ada proses pengolahan. Dari berbagai proses pengolahan tersebut, tentunya menghasilkan limbah yang salah satunya adalah limbah kulit pisang. Limbah kulit pisang biasanya terbuang begitu saja atau hanya sebagai bahan pakan ternak yang secara ekonomis tidak termanfaatkan secara efisien sehingga kami berinisiatif untuk mengolahnya menjadi produk teknologi tepat guna berupa pembuatan pupuk cair. Hal ini dikarenakan limbah kulit pisang mengandung unsur makro P, K yang masing-masing berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan buah,batang. Selain itu juga mengandung  unsur mikro Ca, Mg, Na, Zn yang dapat berfungsi untuk kekebalan dan pembuahan pada tanaman agar dapat tumbuh secara optimal sehingga berdampak pada jumlah produksi yang maksimal. (Soeryoko hery, 2011)

 

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah proses pembuatan pupuk cair dari limbah kulit pisang?
  2. Bagaimanakah proses pengemasan pupuk cair dalam peningkatan mutu dan nilai jual?

 

Tujuan

  1. Untuk mengetahui proses pembuatan pupuk cair dari limbah kulit pisang.
  2. Untuk mengetahui proses pengemasan pupuk cair dalam peningkatan mutu dan nilai jual.

 

Pembahasan

            Proses pembuatan pupuk cair diawali dengan mengumpulkan bahan utama berupa limbah kulit pisang, bioaktivator (EM-4), gula pasir, air. Kemudian menyediakan alat berupa mesin pencacah, ember dan drum plastik. Agar dapat menghasilkan pupuk cair yang efektif, secara biokimia diperlukan penentuan komposisi bahan, sehingga dalam pembuatan pupuk cair ini dapat diasumsikan menggunakan limbah kulit pisang seberat 10 Kg, 5 liter bioaktivator (EM-4), air 20 liter, gula pasir 5 Kg dan. Dari komposisi bahan diatas dapat ditarik perbandingan untuk kulit pisang, bioaktivator (EM-4): air: gula pasir adalah 2:1:1:4. Proses pembuatan dimulai dengan mencacah limbah kulit pisang terlebih dahulu, dilanjutkan dengan melarutkan bioaktivator (EM-4) ke dalam ember yang berisi air dan gula pasir. Hal ini berfungsi untuk membangunkan bakteri dari tidurnya agar dapat bekerja menguraikan limbah kulit pisang. Selanjutnya dilakukan pengadukan yang menyeluruh agar dapat tercampur merata. Proses yang terakhir adalah mencampurkan limbah kulit pisang yang telah dicacah dengan larutan bioaktivator yang berada pada ember ke dalam drum plastik, lalu diaduk kembali hingga tercampur merata. Kemudian menutupnya dengan rapat. Dibutuhkan perlakuan khusus yang berlangsung 7 hari dengan mengaduknya setiap hari selama 15 menit serta dilakukan pengamatan terhadap warna dan bau untuk menentukan berhasil tidaknya proses pembuatan pupuk cair tersebut. Tolak ukur keberhasilan dalam pembuatan pupuk cair ini berhasil, apabila warna menjadi coklat dan tidak berbau menyengat.

            Setelah dilakukan pengamatan terhadap warna dan bau, yang menyatakan bahwa pembuatan pupuk cair ini berhasil,  langkah selanjutnya adalah melakukan  pengemasan (Packing) pupuk cair untuk meningkatkan mutu dan nilai jual pasar karena didalam ruang lingkup agribisnis selain kualitas produk, pengemasan juga menentukan pandangan masyarakat terhadap produk yang kita jual. Apabila kualitas pupuk cair ini bagus namun proses pengemasan kurang menarik, maka mutu dan nilai jualnya akan rendah sehingga diperlukan beberapa langkah untuk mengemasnya.

Bahan yang perlu disiapkan untuk mengemas diantaranya botol plastik, label dan segel. Dimulai dengan menentukan volume setiap botol,  lalu mengisinya sesuai volume dengan corong. Dilanjutkan dengan menutup, memberi label serta segel pada tutup botol. Hal ini dilakukan untuk menghindari tindakan pemalsuan produk.

Kemudian dilakukan proses pemasaran agar menghasilkan profit. Sebelum proses pemasaran sebaiknya mengetahui sistem informasi bisnis pada objek pasar yang akan dituju, hal ini berfungsi untuk mengetahui seberapa besar permintaan dan penawaran terhadap konsumen. Apabila jumlah barang sangat banyak, penawaran akan meningkat dan harga barang menjadi rendah sehingga sangat tidak efisien apabila kita menjual pada pasar tersebut. Namun sebaliknya apabila jumlah barang dalam pasar sedikit yang diakibatkan oleh besarnya permintaan dan harga akan naik, pada kondisi inilah pemasaran produk dilakukan karena kondisinya yang tepat.

Penutup

Secara ilmiah limbah kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk cair karena masih mengandung unsur berupa Phosfor dan Kalium yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada bagian buah dan batang.

Produk ini dapat menjadi komoditas pertanian dengan memberikan sedikit sentuhan berupa pengemasan dan pemasaran. Pengemasan dilakukan untuk meningkatkan mutu dan nilai jualnya, sedangkan pemasaran dilakukan untuk mengenalkan produk kepada masyarakat dalam meningkatkan sistem informasi bisnis.

Hasil pengolahan berupa pupuk cair dapat dimanfaatkan secara biologis terhadap pertumbuhan tanaman dan secara ekonomis terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Ashari, Sumeru. 2004 Biologi Reproduksi Tanaman Buah-Buahan Komersial. Malang: Banyumedia Publishing.

Rukmana, Rahmat. 1999 Usaha Tani Pisang. Yogyakarta: Kanisius

Soeryoko, Hery. 2011 Kiat Pintar Memproduksi Kompos dengan Pengurai Buatan Sendiri Yogyakarta: Lily Publisher

Wikipedia. 2012 Geografi Indonesia http://ms.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia

              Diakses pada 17 Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s