The Phenomena of ARTISS (ARek TIga SainS)

Hello to all my friends
 
I want to introduce about my class to all of you. Its name is ARTISS.
ARTISS is ARek TIga SainS.
Its name of class in Islamic Senior High School of Keboan that have 34 student.
It comprises 5 boys someone is me (Bowo), Mukhlis, Yusuf  and other. and 29 girls.
The mayor of class is Mrs. Erna Sulistyowati S.Pd.
Ok, that’s all describe about my class

Dasar-dasar Komunikasi Bisnis

  1. 1.      Pengertian Komunikasi

Secara Bahasa komunikasi berasal dari bahasa latin “Communis,Communico”. yang artinya membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih.

Secara istilah merupakan suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain, yang pada gilirannya akan tiba kepada saling pengertian.

Komunikasi akan Efektif apabila terjadi pemahaman yang sama dan merangsang pihak lain untuk berpikir atau melakukan sesuatu”. Juga akan membantu mengantisipasi masalah, membuat keputusan yang tepat, dapat mengkoordinasikan aliran kerja, mengawasi orang lain, dan mengembangkan berbagai hubungan

  1. 2.      Tujuan Komunikasi
    1. Memberi informasi (Informing).

Tujuan pertama dalam komunikasi bisnis adalah memberikan informasi yang berkaitan dengan dunia bisnis kepada pihak lain, contoh seorang pemimpin perusahaan ingin mendapatkan pegawai yang diharapkan, maka Dia memasang iklan melalui mass media, memasang websitus/situs di jalur internet, dalam hal ini setiap media mempunyai kelebihan dan kekurangan dilihat dari jangkauan dan biayanya, untuk itu harus memilih media mana yang akan dipilih.

  1. Memberi persuasi (Persuading)

Tujuan kedua komunikasi bisnis adalah memberikan persuasi kepada pihak lain agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan benar, hal ini sering dilakukan terutama yang berkaitan dengan penegasan konfi rmasi pesanan pelanggan atau negoisasi dengan pelanggan, agar kedua pihak memperoleh manfaat secara bersama-sama tanpa ada yang merasa dirugikan.

  1. Melakukan Kolaborasi (collaborating)

Tujuan ketiga dalam komunikasi bisnis adalah melakukan kolaborasi, atau kerja sama bisnis antara seseorang dengan orang lain, melalui jalinan komunikasi bisnis tersebut seseorang dapat dengan mudah melakukan kerja sama bisnis, saat sekarang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi maka seseorang dapat menggunakan berbagai media telekomunikasi seperti telpon, faksimile, telpon seluler, internet surat elektronik, teleconference. Teknologi komunikasi tersebut sangat penting artinya dalam pererat kerja sama bisnis.

  1. 3.      Unsur-unsur Komunikasi
    1. Unsur Utama
      1. Sumber (Source)

sebagai pengirim informasi/pesan/gagasan, sering juga disebut komunikator, source, sender, atau encoder.

  1. Pesan/Informasi (Message)

sesuatu berupa pengetahuan, hiburan, informasi, nasehat, atau yang disampaikan pengirim kepada penerima, sering juga disebut message, content atau information.

  1.  Saluran/Media (Channel)

Saluran komunikasi terdiri atas komunikasi (lisan, tertulis dan elektronik). “alat atau sarana yang digunakan memindahkan pesan” Media Cetak dan Media Elektronik.

  1. Penerima (Receiver)

pihak yang menjadi sasaran pesan, sering disebut khalayak, sasaran, audiens atau receiver.

  1. Unsur Pelengkap
    1. Tanggapan Balik (Feedback).

respon atau reaksi yang diberikan oleh penerima, dapat berupa pendapat, komentator atau saran.

  1. Efek

pengaruh atau adanya perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan, dapat dalam bentuk pengetahuan, sikap dan perilaku.

  1. Lingkungan.

situasi atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi. fisik/jarak, sosial budaya, psikologi dan dimensi waktu (pagi, siang, malam, atau dikaitkan dengan musim).

  1. 4.      Proses Komunikasi

Bagan

  1. 5.      Bentuk Komunikasi
    1. Komunikasi Verbal

Komunikasi yang disampaikan secara lisan atau tertulis menggunakan suatu bahasa.

  1. Komunikasi NonVerbal.

Komunikasi berupa isyarat, gerak tubuh, intonasi suara dan sikap.

  1. 6.      Hambatan Komunikasi
    1. Antar personal

Disebabkan oleh beda persepsi dan bahasa, pendengaran yang buruk, gangguan emosional, beda budaya, gangguan fisik.

  1.  Dalam Organisasi

Disebabkan oleh kelebihan beban informasi dan pesan yang bersaing, penyaringan pesan yang tidak tepat, iklim komunikasi tertutup atau tidak memadai.

  1. 7.      Memperbaiki Komunikasi
    1. Memelihara iklim komunikasi terbuka.
    2. Bertekad memegang teguh etika berkomunikasi.
    3. Memahami kesulitan komunikasi antarbudaya.
    4. menggunakan pendekatan berkomunikasi.
    5. menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
    6. menciptakan dan memproses pesan secara efektif dan efisien.
    7. menghubungkan gagasan, mengurangi jumlah pesan, memilih saluran yang tepat.
    8. meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
    9. 8.      Kesimpulan

Komunikasi terjadi apabila ada pesan (Message)yang disampaikan oleh sumber (Source) kepada penerima(Receiver) melalui media perantara (Channel) baik secara verbal maupun non verbal demi terciptanya suatu tujuan bersama.

SISTEM PERDAGANGAN HASIL PERTANIAN DITINGKAT REGIONAL

DISUSUN OLEH:

PURBOWO               120321100100

PRODI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2012

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

  1. 1.    LATAR BELAKANG

Sebagai satu bangsa dan negara besar dengan pemilikan sumber daya alam yang melimpah, kita sudah sepakat bahwa pembangunan nasional harus mampu memanfaatkan sumber daya yang kita miliki untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk mencapai tujuan tersebut pembangunan harus dapat mewujudkan perekonomian yang terus mengalami pertumbuhan yang tercermin pada peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat.

Perekonomian yang berjalan tanpa pertumbuhan, atau dengan pertumbuhan tetapi hanya dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat, dapat mengakibatkan memburuknya kesejahteraan masyarakat, yang kemudian dapat memicu terjadinya kekacauan sosial.  Situasi seperti ini telah pernah kita alami pada waktu yang lalu, bahkan akhir-akhir ini.

Arti penting sektor perdagangan hasil pertanian secara luas meliputi kesepahaman konsep pembangunan yang direncanakan dengan pelaksanaannya. Selanjutnya, pembangunan harus dapat menghasilkan perubahan  struktural yang seimbang.

Perubahan struktural terus terjadi pada perekonomian Indonesia, akan tetapi perubahan yang terjadi menghasilkan adanya ketimpangan antarsektor yang kemudian menumbuhkan struktur ekonomi yang rapuh;  struktur ekonomi yang dapat dengan mudah dipengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi di suatu sektor tanpa dapat digantikan oleh sektor lainnya. Sebagai contoh, pembangunan industri yang kurang memperhatikan dan memanfaatkan sumber daya alam dan hasil pertanian yang melimpah yang kita miliki, dengan mudah tergoyang oleh perubahan-perubahan yang terjadi di dunia luar.

Harus diakui bahwa pembangunan pada masa lalu, pada tingkat regional telah berhasil mengembangkan dan menyerap tenaga kerja yang terus tumbuh, mengurangi jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, dan menjaga stabilitas makro-ekonomi nasional. Dengan beban seperti itu, sektor pertanian sampai saat ini masih memiliki tingkat produktivitas yang rendah, memberikan pendapatan yang memiliki perbedaan  yang besar dengan sektor lainnya, dan sekarang malahan menghadapi hantaman persaingan produk dari pasar luar negeri.

 

Pembangunan juga harus dapat membentukperdagangan yang sehat yaitu perdagangan yang mampu menjaga kesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pertumbuhan perdagangan yang kurang merata dan perubahan struktur ekonomi yang tidak seimbang, tidak akan dapat memanfaatkan sumber daya secara optimal, atau bahkan merusaknya, menghasilkan tingkat kemiskinan yang tinggi, dan mudah hancur oleh pengaruh dari luar. Keadaan seperti itu akan meninggalkan dan mewariskan beban dan bukan hasil pertumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan bagi  generasi mendatang.

Dengan demikian, di masa depan kita dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang dinamis menuju perubahan struktur yang seimbang, meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan, tanpa merusak sumber daya alam dan lingkungan. Angan-angan tersebut masih valid berdasarkan konstitusi dan fakta empiris tentang urgensi sektor agribisnis sebagai sektor andalan, maupun peranannya dalam perekonomian Indonesia.

PEMBAHASAN

  1. 1.    DEFINISI
    1. Secara bahasa sistem berasal dari bahasa yunanai sustēma yang memiliki arti suatu kesatuan yang terdiri komponen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi
    2. Secara istilah merupakan suatu susunan bagian-bagian perdagangan yang memiliki hubungan satu sama lain di suatu daerah/provinsi tertentu yang memiliki item penggerak dan berbasis pertanian.

 

 

  1. 2.    KEGUNAAN

Kegunaan sistem perdagangan hasil pertanian di tingkat regional diantaranya sebagai berikut:

  1. Dapat meningkatkan kesejahteraan hasil pertanian ditingkat provinsi.
  2. Meningkatkan produksi hasil pertanian masyarakat.
  3. Meningkatkan pendapatan daerah.
  4. 3.    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
    1. a.    Faktor produksi modal

Dalam arti sehari-hari, modal sama artinya dengan harta kekayaan seseorang. Yakni merupakan semua harta berupa uang, tabungan, tanah, rumah, mobil dan lain sebagainya yang dimiliki. Modal tersebut dapat mendatangkan penghasiln bagi si pemilik modal, tergantung pada usahanya dan penggunaan modalnya.

 

  1. b.    Faktor produksi tenaga kerja

Berbicara masalah tenaga kerja di Indonesia dan juga sebagian besar negar-negara berkembang termasuk Negara maju pada mulanya merupakan tenaga yang dicurahkan untuk usaha tani sendiri sendiri atau usaha keluarga. Keadaan ini berkembang dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia dan semakin majunya usaha pertanian, sehingga dibutuhkan tenaga kerja diluar keluarga yang khusus dibayar sebagai tenaga kerja upahan. Tenaga kerja upahan ini biasanya terdapat pada usaha pertanian yang berskala luas, rutin (bukan musiman), memiliki administrasi dan manajemen yang tertib dan terencana. Tetapi dewasa ini terjadi lagi perkembangan baru, ketika tenaga kerja upahan tidak lagi hanya terdapat pada usaha pertanian yang luas seperti diatas. Tetapi sudah meluas pada usaha tani kecil skala keluarga seperti usaha tani padi sawah yang tadinya hanya mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga atau famili dan keluarga tolong menolong atau gotong royong saja. Perkembangan ini terjadi karena terjadinya perubahan struktural, yaitu transformasi tenaga kerja dari sektor pertanian pedesaan ke sektor industri diperkotaan. Hal ini picu oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat yang diawali dengan pertumbuhan industri.

 

  1. c.    Faktor pengelolaan

Pengelolaan usaha tani adalah petani bertindak sebagai pengelola atau manajer dari usahanya. Dalam hal ini ia harus pandai mengorganisasi penggunaan faktor-faktor produksi yang dikuasai sebaik mungkin untuk memperoleh produksi secara maksimal. Karena mungkin untuk memperoleh produksi dan produktivitas usaha tani merupakan tolok ukur keberhasilan pengelolaan. Oleh sebab itu  pengelolaan atau manajemen menjadi sangat penting karena selain produktivitas, ia sekaligus juga menentukan tingkat efisiensi dari usaha tani yang dikelola. Bila faktor produksi tanah, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja dan modal dirasa cukup tetapi tidak dikelola dengan baik, maka peningkatan produksi tidak akan tercapai serta usaha tani tidak efisien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

Daniel, Moehar. 2004. Pengantar ekonomi pertanian. Jakarta: PT Bumi Aksara

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PUPUK CAIR

 

Disusun Oleh:

Purbowo, M. Lauchil Mahfud, Eka Nia Juniarti

 

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

 

Abstrak

Dalam mengkonsumsi buah pisang tentu saja menghasilkan limbah berupa kulit pisang yang tidak termanfaatkan secara efisien, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan berupa pembuatan pupuk cair yang lebih bernilai biologis terhadap produk pertanian dan bernilai ekonomis terhadap pendapatan masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengetahui proses pembuatan  pupuk cair dari limbah kulit pisang dan proses pengemasannya dalam peningkatan mutu dan nilai jual.Proses pembuatan pupuk cair diawali dengan mengumpulkan bahan utama dan menyediakan mesin pencacah. Kemudian melakukan proses pembuatan dengan mencampurkan cacahan limbah kulit pisang, bioaktivator, gula dan air yang berada pada ember ke dalam drum plastik, kemudian menutupnya dengan rapat. Perlakuan ini berlangsung 7 hari dengan mengaduknya setiap hari selama 15 menit serta dilakukan pengamatan terhadap warna dan bau untuk menentukan berhasil tidaknya proses pembuatan pupuk cair tersebut. Pembuatan pupuk ini dikatakan berhasil apabila warna menjadi coklat dan tidak berbau menyengat.Tahap pengemasan (Packing) diawali dengan menyiapkan bahan berupa botol plastik, label dan segel. Kemudian  menentukan  volume setiap botol, lalu mengisinya. Dilanjutkan dengan menutup, memberi label serta segel pada tutup botol. Hal ini dilakukan untuk menghindari tindakan pemalsuan produk.

 

Kata kunci: Pisang, kulit pisang, pupuk cair.

 

Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia tenggara yang sebagian besar kondisi tanahnya subur serta memiliki iklim tropiskarena terletak di antara 6º LU – 11º LS dan 95º BT – 141º BT, antara lautan Pasifik dan lautan Hindi, antara benua Asia dan benua Australia, dan pada pertemuan dua rangkaian pergunungan, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterranean, sehingga cocok untuk lahan budidaya pertanian terutama jenis buah-buahan. (Wikipedia, 2012 )

Buah merupakan salah satu kebutuhan pokok dari slogan “Empat sehat lima sempurna.”, meskipun keberadaannya bukan utama namun peranan buah bagi kesehatan sangat besar. Hal ini dikarenakan buah mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia sebagai antibodi terhadap serangan penyakit. Buah dapat tumbuh dan berkembang secara optimal apabila dapat menyesuaikan hidupnya dengan habitatnya. Berdasarkan habitatnya buah-buahan di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua yaitu pada dataran tinggi dan pada dataran rendah. Contoh buah-buahan yang habitatnya pada dataran tinggi yaitu apel, jeruk dan pear, sedangkan buah-buahan yang habitatnya pada dataran rendah yaitu nangka, mangga, pisang. (Ashari Sumeru, 2004)

Sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih buah pisang untuk dibudidayakan, hal ini dikarenakan proses pertumbuhannya yang sederhana yaitu tidak terlalu membutuhkan banyak perawatan khusus seperti buah-buahan lainnya, sehingga meminimalisir biaya produksi yang mengakibatkan bertambahnya keuntungan. Selain itu peluang bisnis buah pisang lebih unggul dikarenakan memiliki daya simpan  yang lebih lama bila dipanen pada masa tua sebelum masak dari pohonnya. Disisi lain buah pisang dapat diolah menjadi anekah makanan olahan baik basa maupun kering. (Rukmana Rahmat, 1999)

Secara medis buah pisang dapat membantu kegiatan perut manusia berupa melancarkan buang air besar (BAB) karena serat alaminya serta mencegah sariawan dengan kandungan vitamin C-nya. Pada dasarnya mengkonsumsi buah pisang dapat dilakukan dengan dua cara yakni secara langsung maupun secara tidak langsung. Namun dari segi agribisnis buah pisang dikonsumsi secara tidak langsung yakni dengan mengolahnya terlebih dahulu agar menjadi berbagai produk  yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan tanpa ada proses pengolahan. Dari berbagai proses pengolahan tersebut, tentunya menghasilkan limbah yang salah satunya adalah limbah kulit pisang. Limbah kulit pisang biasanya terbuang begitu saja atau hanya sebagai bahan pakan ternak yang secara ekonomis tidak termanfaatkan secara efisien sehingga kami berinisiatif untuk mengolahnya menjadi produk teknologi tepat guna berupa pembuatan pupuk cair. Hal ini dikarenakan limbah kulit pisang mengandung unsur makro P, K yang masing-masing berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan buah,batang. Selain itu juga mengandung  unsur mikro Ca, Mg, Na, Zn yang dapat berfungsi untuk kekebalan dan pembuahan pada tanaman agar dapat tumbuh secara optimal sehingga berdampak pada jumlah produksi yang maksimal. (Soeryoko hery, 2011)

 

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah proses pembuatan pupuk cair dari limbah kulit pisang?
  2. Bagaimanakah proses pengemasan pupuk cair dalam peningkatan mutu dan nilai jual?

 

Tujuan

  1. Untuk mengetahui proses pembuatan pupuk cair dari limbah kulit pisang.
  2. Untuk mengetahui proses pengemasan pupuk cair dalam peningkatan mutu dan nilai jual.

 

Pembahasan

            Proses pembuatan pupuk cair diawali dengan mengumpulkan bahan utama berupa limbah kulit pisang, bioaktivator (EM-4), gula pasir, air. Kemudian menyediakan alat berupa mesin pencacah, ember dan drum plastik. Agar dapat menghasilkan pupuk cair yang efektif, secara biokimia diperlukan penentuan komposisi bahan, sehingga dalam pembuatan pupuk cair ini dapat diasumsikan menggunakan limbah kulit pisang seberat 10 Kg, 5 liter bioaktivator (EM-4), air 20 liter, gula pasir 5 Kg dan. Dari komposisi bahan diatas dapat ditarik perbandingan untuk kulit pisang, bioaktivator (EM-4): air: gula pasir adalah 2:1:1:4. Proses pembuatan dimulai dengan mencacah limbah kulit pisang terlebih dahulu, dilanjutkan dengan melarutkan bioaktivator (EM-4) ke dalam ember yang berisi air dan gula pasir. Hal ini berfungsi untuk membangunkan bakteri dari tidurnya agar dapat bekerja menguraikan limbah kulit pisang. Selanjutnya dilakukan pengadukan yang menyeluruh agar dapat tercampur merata. Proses yang terakhir adalah mencampurkan limbah kulit pisang yang telah dicacah dengan larutan bioaktivator yang berada pada ember ke dalam drum plastik, lalu diaduk kembali hingga tercampur merata. Kemudian menutupnya dengan rapat. Dibutuhkan perlakuan khusus yang berlangsung 7 hari dengan mengaduknya setiap hari selama 15 menit serta dilakukan pengamatan terhadap warna dan bau untuk menentukan berhasil tidaknya proses pembuatan pupuk cair tersebut. Tolak ukur keberhasilan dalam pembuatan pupuk cair ini berhasil, apabila warna menjadi coklat dan tidak berbau menyengat.

            Setelah dilakukan pengamatan terhadap warna dan bau, yang menyatakan bahwa pembuatan pupuk cair ini berhasil,  langkah selanjutnya adalah melakukan  pengemasan (Packing) pupuk cair untuk meningkatkan mutu dan nilai jual pasar karena didalam ruang lingkup agribisnis selain kualitas produk, pengemasan juga menentukan pandangan masyarakat terhadap produk yang kita jual. Apabila kualitas pupuk cair ini bagus namun proses pengemasan kurang menarik, maka mutu dan nilai jualnya akan rendah sehingga diperlukan beberapa langkah untuk mengemasnya.

Bahan yang perlu disiapkan untuk mengemas diantaranya botol plastik, label dan segel. Dimulai dengan menentukan volume setiap botol,  lalu mengisinya sesuai volume dengan corong. Dilanjutkan dengan menutup, memberi label serta segel pada tutup botol. Hal ini dilakukan untuk menghindari tindakan pemalsuan produk.

Kemudian dilakukan proses pemasaran agar menghasilkan profit. Sebelum proses pemasaran sebaiknya mengetahui sistem informasi bisnis pada objek pasar yang akan dituju, hal ini berfungsi untuk mengetahui seberapa besar permintaan dan penawaran terhadap konsumen. Apabila jumlah barang sangat banyak, penawaran akan meningkat dan harga barang menjadi rendah sehingga sangat tidak efisien apabila kita menjual pada pasar tersebut. Namun sebaliknya apabila jumlah barang dalam pasar sedikit yang diakibatkan oleh besarnya permintaan dan harga akan naik, pada kondisi inilah pemasaran produk dilakukan karena kondisinya yang tepat.

Penutup

Secara ilmiah limbah kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk cair karena masih mengandung unsur berupa Phosfor dan Kalium yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada bagian buah dan batang.

Produk ini dapat menjadi komoditas pertanian dengan memberikan sedikit sentuhan berupa pengemasan dan pemasaran. Pengemasan dilakukan untuk meningkatkan mutu dan nilai jualnya, sedangkan pemasaran dilakukan untuk mengenalkan produk kepada masyarakat dalam meningkatkan sistem informasi bisnis.

Hasil pengolahan berupa pupuk cair dapat dimanfaatkan secara biologis terhadap pertumbuhan tanaman dan secara ekonomis terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Ashari, Sumeru. 2004 Biologi Reproduksi Tanaman Buah-Buahan Komersial. Malang: Banyumedia Publishing.

Rukmana, Rahmat. 1999 Usaha Tani Pisang. Yogyakarta: Kanisius

Soeryoko, Hery. 2011 Kiat Pintar Memproduksi Kompos dengan Pengurai Buatan Sendiri Yogyakarta: Lily Publisher

Wikipedia. 2012 Geografi Indonesia http://ms.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia

              Diakses pada 17 Desember 2012

“PERANAN MIKORIZA SEBAGAI HUBUNGAN SIMBIOSIS MUTUALISME TERHADAP TANAMAN KENTANG”

Disusun Oleh:

PURBOWO   120321100100

PRODI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2012

BAB I PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara agraris, letaknya yang strategis membuat iklim dan cuaca di indonesia berbeda dengan negara lain. Sehingga struktur tanah di wilayah Indonesia sangat tepat untuk bercocok tanam seperti umbi-umbian seperti tanaman kentang.

Kentang merupakan sumber vitamin dan pencegah hipertensi, karena kentang mengandung karbohidrat, kalium, protein, lemak dan memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 80%. Dibanding dengan umbi-umbian, seperti singkong, komposisi kandungangizi kentang relatif lebih baik. Kentang merupakan jenis umbi yang kaya akan vitamin C kadarnya mencapai 31 mg per 100 gr bagian kentang yang dapat dimakan.

Secara umum masyarakat indonesia mengkonsumsi kentang secara langsung seperti kentang goreng atau secara tidak langsung seperti kue donat. Hal ini tentu saja membutuhkan jumlah produksi kentang dengan varietas yang unggul dalam segi kualitas dan kuantitas, agar dapat menghasilkan produk yang bermutu. Oleh karena itu diperlukan teknologi alternatif penanaman pada saat budidaya tanaman kentang berupa simbiosis mutualisme dengan Jamur Mikoriza.

Mikoriza merupakan sekelompok jamur yang bersimbiosis mutualisme dengan tumbuhan tingkat tinggi pada sistem perakarannya. Sehingga antara mikoriza dan akar tanaman saling menguntungkan dari segi pembagian unsur hara. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana mekanisme simbiosis mutualisme antara Mikoriza dan tanaman Kentang?
  2. Bagaimana upaya meningkatkan populasi Mikoriza pada akar tanaman Kentang?

1.3  Tujuan

 

  1. Untuk mengetahui mekanisme simbiosis mutualisme antara Mikoriza dan tanaman Kentang.
  2. Untuk mengetahui upaya meningkatkan populasi Mikoriza pada akar tanaman Kentang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula dan Bio Nature pada hasil perbanyakan kultur jaringan kentang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetatif dan produksi umbi mini. Rancangan percobaan perlakuan faktorial 2x2x4 dengan rancangan lingkungan adalah acak lengkap. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) yaitu tanpa CMA sebagai kontrol (Mo) dan pemberian CMA (M1). Pada media polibag dilapang di berikan perlakuan Bio Nature yaitu tanpa Bio Nature (Bo) dan pemberian Bio Nature (B1). Penelitian ini menggunakan empat kultivar kentang yaitu V1 (AD 5), V2 (AD 58), V3 (Atlantik ) dan V 4 ( Granola). Pengamatan meliputi tinggi tajuk, jumlah buku daun, bobot umbi, jumlah umbi, dan jumlah nematoda serta jumlah spora. Hasil sidik ragam faktor tunggal berpengaruh nyata pada kultivar. Kultivar atlantik adalah kultivar terbaik nilai rata-ratanya pada peubah tinggi tajuk, bobot umbi dan jumlah umbi dibandingkan kultivar AD 5, AD 58 dan Granola. Penggunaan CMA dan Bio Nature dalam produksi Umbi Mini kentang asal stek mikro memberikan pengaruh nyata pada interaksi ordo dua dan ordo tiga. Interaksi ordo tiga yaitu pemberian CMA tanpa Bio Nature pada kultivar atlantik akan meningkatkan jumlah umbi sebesar 280 % dan bobot umbi 420 % dibandingkan dengan kontrol pada kultivar atlantik. Padapemberian Bio Nature tanpa CMA pada kultivar atlantik akanmeningkatkanjumlah umbi sebesar 170 % dan bobot umbi 320 % dibandingkan dengan kontrol pada kultivar atlantik. Pad a pemberian Bio Nature dengan CMA pada kultivar atiantik akan meningkatkan jumlah umbi sebesar 130 % dan bobot umbi 160 dibandingkan dengan kontrol pada kultivar atlantik. Pada ordo dua, pemberian CMA pada kultivar atlantik merupakan interaksi terbaik antara CMA dan kultivar dibandingkan interaksi lain pada peubah tinggi tajuk. Pengaruh pemberian CMA akan meningkatkan spora 174 % dan menurunkan nematoda 22 % dibandingkan kontrol (MoBo). Pemberian Bio Nature tanpa CMA akan meningkatkan spora sebanyak 164 % dan menurunkan nematoda 69 % dibandingkan kontrol (MoBo). Demikian pula penggunaan kombinasi Bio Nature dan CMA akan meningkatkan jumlah spora 193 % dan menurunkan nematoda 58 % dibandingkan kontrol (MoBo). Penggunakan kultivar Atlantik dikombinasikan dengan CMA (Glomus manihotis) akan mendapatkan produksi vegetatif dan generatif yang lebih tinggi. Pemberian CMA pada tanaman perlu diperhatikan kepadatan spora, penyebaran spora pada inokulum dan penempatan inokulum untuk meningkatkan akar yang terinfeksi. Penggunaan tanah organik yang diberikan Bio Nature sebaiknya minimal 40 hari setelah pemberian. (Sumadi dan Abdullah Azis, 1999)

Pemberian mikoriza menghasilkan berat umbi kentang yang lebih berat (29,13 gram) dibanding dengan tanaman kentang tanpa pemberian mikoriza (28,00 gram). Kedua jenis perlakuan itu termasuk dalam kelas umbi S dengan kriteria ukuran 10 – 30 gram/umbi atau grade C. Perlakuan pemberian mikoriza memiliki berat umbi yang lebih besar 29,13 gram dibanding perlakuan tanpa mikoriza yang hanya 28,00 gram dengan rerata jumlah umbi 10 knol per tanaman.

Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari pada yang tidak bermikoriza, dapat meningkatkan penyerapan unsur hara makro dan beberapa unsur hara mikro. Perlakuan pemberian mikoriza dan tanpa mikoriza pada hasil panen sebesar 11,2 ton/ha. Seiring dengan menjamurnya berbagai jenis pupuk organik, pupuk mikoriza dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pupuk organik pada pertanaman kentang.  (Kementrian pertanian, 2011)

BAB III PEMBAHASAN

 

Pada dasarnya simbiosis mutualisme antara tanaman kentang dan peranan jamur Mikoriza dapat kita lihat dari mekanismenya. Jamur Mikoriza  membantu penyerapan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman kentang, khususnya unsur P dan N, sedangkan kentang  menyediakan unsur karbon yang dibutuhkan jamur untuk kelangsungan hidupnya. Mikoriza terdapat hampir di semua tanaman inang, penyebarannya sangat luas dan dapat ditemukan di berbagai areal pertanaman di Indonesia, mulai dari daerah pegunungan sampai daerah pantai. Mikoriza berperan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman kentang dengan bertambahnya kemampuan akar dalam menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Selain itu mikoriza juga berperan dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen akar, ketahanan terhadap kekeringan atau kondisi ekstrim lainnya.

Oleh karena itu dibutuhkan upaya peningkatan populasi Mikoriza pada akar tanaman Kentang. Dimulai dengan mempersiapkan bahan yang dibutuhkan yaitu media tanam, starter mikoriza benih kentang, pupuk cair, polibag dan kantong plastik. Peralatan yang digunakan antara lain dandang sabluk, cetok, gunting, hand sprayer, kompor, dll. Kemudian tahap selanjutnya adalah produksi Mikoriza, tahap ini diawali dengan sterilisasi media. Media perbanyakan Mikoriza yang berupa pasir/tanah/arang sekam dipanaskan dengan menggunakan dandang sabluk selama 1 – 2 jam. Tujuannya untuk membunuh mikroorganisme yang hidup pada media tanam, sehingga diharapkan kompetisi antara Mikoriza dan mikroorganisme lain menjadi berkurang. Selanjutnya media dimasukkan ke dalam polibag sampai ¾ volumenya. Menanam benih kentang yang telah dikecambahkan terlebih dahulu. Benih kentang yang telah berkecambah akan meningkatkan persentase pertumbuhannya karena media tanam yang digunakan miskin unsur hara. Biarkan benih tumbuh sampai berumur 2 minggu dengan melakukan penyiraman secara teratur menggunakan hand sprayer. Tahap selanjutnya adalah memasukkan starter mikoriza yang berupa akar yang bermikoriza di sekitar perakaran sebanyak 0,5 – 1 gram. Starter Mikoriza yang dicampurkan minimal mengandung 10-20 spora.

Kemudian Tahap pemeliharaan, tahap ini dilakukan sampai inang berumur ±2 bulan. Tanaman kentang diletakkan pada suatu tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari sambil sesekali dilakukan penyiraman dan pemupukan. Penyiraman cukup dengan menjaga kelembapan media tanam. Pemupukan juga dilakukan secukupnya, dengan memilih pupuk cair yang mengandung unsur P rendah.

Selanjutnya Tahap stressing yaitu suatu tahapan yang berupa usaha untuk menghambat atau menekan pertumbuhan tanaman inang dengan kondisi tertentu. Tujuannya yaitu untuk  memacu Mikoriza membentuk struktur tahan berupa spora. Spora inilah nantinya yang dapat dipanen dan menjadi sumber inokulum (starter mikoriza). Dilanjutkan dengan Topping yang dilakukan dengan hanya menyisakan batang bawah ± 1/4nya. Kondisi ini dikombinasikan dengan melakukan pemaparan tanaman inang di bawah bawah sinar matahari. Tahap terakhir adalah Pemanenan, tahap ini dapat dilakukan setelah tanaman inang mengalami stressing selama 1 (satu) bulan atau ± 3 (tiga) bulan sejak tanam awal. Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar tanaman inang dan mengambil bagian akarnya. Akar lalu dipotong kecil-kecil (± 0,5 cm) dan dicampur dengan media tanamnya. Selanjutnya kemas mikoriza beserta media tanamnya dalam kantong plastik dan siap untuk diaplikasikan sebagai pupuk hayati. Bila tidak langsung digunakan maka sebaiknya disimpan dalam lemari es.

 

 

 

BAB IV PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  1. Mekanisme simbiosis mutualisme antara Mikoriza dan tanaman kentang yakni membantu penyerapan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman kentang, khususnya unsur P dan N, sedangkan kentang  menyediakan unsur karbon yang dibutuhkan jamur untuk kelangsungan hidupnya.
  2. Upaya meningkatkan populasi Mikoriza pada akar tanaman kentang melalui beberapa tahap seperti tahap persiapan bahan, tahap produksi mikoriza, tahap pemeliharaan, tahap stressing dan tahap pemanenan.

 

5.2 Saran

  1. Diperlukan peran pemeritah daerah untuk melakukan penyuluhan tentang upaya meningkatkan populasi jamur mikoriza pada lahan pertanian masyarakat terutama pedesaan terpencil.
  2. Diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk meningkatkan populasi jamur mikoriza pada lahannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sumadi dan Abdullah Azis. (1999) Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula Dan Bio Nature pada Hasil Perbanyakan Kultur Jaringan Kentang (solanum tuberosum L) Saat Aklimatisasihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/18293

Diakses pada tanggal 01 Desember 2012

Kementrian pertanian . (2011) Penggunaan Mikoriza Pada Tanaman Kentang Di Dataran Medium Yogyakarta

http://epetani.deptan.go.id/budidaya/penggunaan-mikoriza-pada-tanaman-kentang-di-dataran-medium-yogyakarta-1879

Diakses pada tanggal 29 November 2012

oBLONG

oleh:

jiah.jpg

PURBOWO 120321100100

Setetes air

menerjang hamparan kosong

diatas awan kosong

matahari

dibawah tanah pun kosong

bagaimana kah aku harus rainmempercayai omong kosong????

Tidak, Tidak mungkin……..

bila cermin dunia mulai berbohong

dan lautan menjadi sombong

Terombang-ambinglah wahai kalian

 congratulation

SEMANGAT DAN PERJUANGANKU MENGGAPAI UTM

ipa 2 Purbowo merupakan salah satu dari beberapa mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura dari kabupaten Jombang yang terseleksi secara nasional dalam SNMPTN jalur Tulis dengan jurusan AGRIBISNIS.

Karena merupakan satu-satunya mahasiswa dari jombang yang mengambil jurusan Agribisnis, sehingga saya mendapatkan julukan “Mas Jombang” dari teman-teman terdekat.

Namun tahukah anda bahwa jurusan ini bukan pilihan kehendak saya???  ya ini merupakan pilihan terakhir dari 6 pilihan jurusan yang disediakan pada jalur SNMPTN Undangan dan SNMPTN Tulis. Pada SNMPTN jalur Undangan diberikan 2 pilihan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang masing-masing memberi kuota 2 jurusan.

Untuk PTN yang pertama saya memilih Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan Jurusan Pendidikan Sains dan Pendidikan Biologi. Selanjutnya adalah Universitas Negeri Malang (UM) dengan Jurusan Pendidikan IPA dan Biologi. Namun pada kenyataanya itu hanya mimpi Belaka, saya tidak diterima di kedua PTN tersebut.

Tidak Putus asa sampai disini, saya mencoba untuk mengikuti jalur SNMPTN Tulis, sayangnya kuota yang diberikan hanya 2 PTN dengan masing-masing 1 jurusan. Kemudian saya berpikir untuk meninggalkan dunia sains dan beralih ke dunia IT dengan memilih Jurusan Teknik Informatika di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Untuk jurusan kedua, saya diberi saran oleh guru BK untuk memilih Jurusan AGRIBISNIS di Universitas Trunojoyo Madura.

Sebulan kemudian saya sangat terkejut bahwasanya  telah lolos SNMPTN, gak menyangka banget bisa lolos dari ratusan ribu peserta di Indonesia.

Setelah mengikuti berbagai prosedur daftar ulang, saya telah menyadari bahwa:

“Keputusan terbaik adalah dari Tuhan, bukan dari kehendak nafsu kita sendiri”.

Oleh karena itu saya tetap bersemangat untuk menempuh pendidikan tinggi di jurusan AGRIBISNIS bersama teman-teman yang terabung dalam HIMAGRI mengingat slogannya yang berbunyi

“KITA SATU HIMAGRI, HIDUP BERSAMA MATI WANG SEWANG”.