“PERANAN MIKORIZA SEBAGAI HUBUNGAN SIMBIOSIS MUTUALISME TERHADAP TANAMAN KENTANG”

Disusun Oleh:

PURBOWO   120321100100

PRODI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2012

BAB I PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara agraris, letaknya yang strategis membuat iklim dan cuaca di indonesia berbeda dengan negara lain. Sehingga struktur tanah di wilayah Indonesia sangat tepat untuk bercocok tanam seperti umbi-umbian seperti tanaman kentang.

Kentang merupakan sumber vitamin dan pencegah hipertensi, karena kentang mengandung karbohidrat, kalium, protein, lemak dan memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 80%. Dibanding dengan umbi-umbian, seperti singkong, komposisi kandungangizi kentang relatif lebih baik. Kentang merupakan jenis umbi yang kaya akan vitamin C kadarnya mencapai 31 mg per 100 gr bagian kentang yang dapat dimakan.

Secara umum masyarakat indonesia mengkonsumsi kentang secara langsung seperti kentang goreng atau secara tidak langsung seperti kue donat. Hal ini tentu saja membutuhkan jumlah produksi kentang dengan varietas yang unggul dalam segi kualitas dan kuantitas, agar dapat menghasilkan produk yang bermutu. Oleh karena itu diperlukan teknologi alternatif penanaman pada saat budidaya tanaman kentang berupa simbiosis mutualisme dengan Jamur Mikoriza.

Mikoriza merupakan sekelompok jamur yang bersimbiosis mutualisme dengan tumbuhan tingkat tinggi pada sistem perakarannya. Sehingga antara mikoriza dan akar tanaman saling menguntungkan dari segi pembagian unsur hara. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana mekanisme simbiosis mutualisme antara Mikoriza dan tanaman Kentang?
  2. Bagaimana upaya meningkatkan populasi Mikoriza pada akar tanaman Kentang?

1.3  Tujuan

 

  1. Untuk mengetahui mekanisme simbiosis mutualisme antara Mikoriza dan tanaman Kentang.
  2. Untuk mengetahui upaya meningkatkan populasi Mikoriza pada akar tanaman Kentang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula dan Bio Nature pada hasil perbanyakan kultur jaringan kentang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetatif dan produksi umbi mini. Rancangan percobaan perlakuan faktorial 2x2x4 dengan rancangan lingkungan adalah acak lengkap. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) yaitu tanpa CMA sebagai kontrol (Mo) dan pemberian CMA (M1). Pada media polibag dilapang di berikan perlakuan Bio Nature yaitu tanpa Bio Nature (Bo) dan pemberian Bio Nature (B1). Penelitian ini menggunakan empat kultivar kentang yaitu V1 (AD 5), V2 (AD 58), V3 (Atlantik ) dan V 4 ( Granola). Pengamatan meliputi tinggi tajuk, jumlah buku daun, bobot umbi, jumlah umbi, dan jumlah nematoda serta jumlah spora. Hasil sidik ragam faktor tunggal berpengaruh nyata pada kultivar. Kultivar atlantik adalah kultivar terbaik nilai rata-ratanya pada peubah tinggi tajuk, bobot umbi dan jumlah umbi dibandingkan kultivar AD 5, AD 58 dan Granola. Penggunaan CMA dan Bio Nature dalam produksi Umbi Mini kentang asal stek mikro memberikan pengaruh nyata pada interaksi ordo dua dan ordo tiga. Interaksi ordo tiga yaitu pemberian CMA tanpa Bio Nature pada kultivar atlantik akan meningkatkan jumlah umbi sebesar 280 % dan bobot umbi 420 % dibandingkan dengan kontrol pada kultivar atlantik. Padapemberian Bio Nature tanpa CMA pada kultivar atlantik akanmeningkatkanjumlah umbi sebesar 170 % dan bobot umbi 320 % dibandingkan dengan kontrol pada kultivar atlantik. Pad a pemberian Bio Nature dengan CMA pada kultivar atiantik akan meningkatkan jumlah umbi sebesar 130 % dan bobot umbi 160 dibandingkan dengan kontrol pada kultivar atlantik. Pada ordo dua, pemberian CMA pada kultivar atlantik merupakan interaksi terbaik antara CMA dan kultivar dibandingkan interaksi lain pada peubah tinggi tajuk. Pengaruh pemberian CMA akan meningkatkan spora 174 % dan menurunkan nematoda 22 % dibandingkan kontrol (MoBo). Pemberian Bio Nature tanpa CMA akan meningkatkan spora sebanyak 164 % dan menurunkan nematoda 69 % dibandingkan kontrol (MoBo). Demikian pula penggunaan kombinasi Bio Nature dan CMA akan meningkatkan jumlah spora 193 % dan menurunkan nematoda 58 % dibandingkan kontrol (MoBo). Penggunakan kultivar Atlantik dikombinasikan dengan CMA (Glomus manihotis) akan mendapatkan produksi vegetatif dan generatif yang lebih tinggi. Pemberian CMA pada tanaman perlu diperhatikan kepadatan spora, penyebaran spora pada inokulum dan penempatan inokulum untuk meningkatkan akar yang terinfeksi. Penggunaan tanah organik yang diberikan Bio Nature sebaiknya minimal 40 hari setelah pemberian. (Sumadi dan Abdullah Azis, 1999)

Pemberian mikoriza menghasilkan berat umbi kentang yang lebih berat (29,13 gram) dibanding dengan tanaman kentang tanpa pemberian mikoriza (28,00 gram). Kedua jenis perlakuan itu termasuk dalam kelas umbi S dengan kriteria ukuran 10 – 30 gram/umbi atau grade C. Perlakuan pemberian mikoriza memiliki berat umbi yang lebih besar 29,13 gram dibanding perlakuan tanpa mikoriza yang hanya 28,00 gram dengan rerata jumlah umbi 10 knol per tanaman.

Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari pada yang tidak bermikoriza, dapat meningkatkan penyerapan unsur hara makro dan beberapa unsur hara mikro. Perlakuan pemberian mikoriza dan tanpa mikoriza pada hasil panen sebesar 11,2 ton/ha. Seiring dengan menjamurnya berbagai jenis pupuk organik, pupuk mikoriza dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pupuk organik pada pertanaman kentang.  (Kementrian pertanian, 2011)

BAB III PEMBAHASAN

 

Pada dasarnya simbiosis mutualisme antara tanaman kentang dan peranan jamur Mikoriza dapat kita lihat dari mekanismenya. Jamur Mikoriza  membantu penyerapan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman kentang, khususnya unsur P dan N, sedangkan kentang  menyediakan unsur karbon yang dibutuhkan jamur untuk kelangsungan hidupnya. Mikoriza terdapat hampir di semua tanaman inang, penyebarannya sangat luas dan dapat ditemukan di berbagai areal pertanaman di Indonesia, mulai dari daerah pegunungan sampai daerah pantai. Mikoriza berperan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman kentang dengan bertambahnya kemampuan akar dalam menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Selain itu mikoriza juga berperan dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen akar, ketahanan terhadap kekeringan atau kondisi ekstrim lainnya.

Oleh karena itu dibutuhkan upaya peningkatan populasi Mikoriza pada akar tanaman Kentang. Dimulai dengan mempersiapkan bahan yang dibutuhkan yaitu media tanam, starter mikoriza benih kentang, pupuk cair, polibag dan kantong plastik. Peralatan yang digunakan antara lain dandang sabluk, cetok, gunting, hand sprayer, kompor, dll. Kemudian tahap selanjutnya adalah produksi Mikoriza, tahap ini diawali dengan sterilisasi media. Media perbanyakan Mikoriza yang berupa pasir/tanah/arang sekam dipanaskan dengan menggunakan dandang sabluk selama 1 – 2 jam. Tujuannya untuk membunuh mikroorganisme yang hidup pada media tanam, sehingga diharapkan kompetisi antara Mikoriza dan mikroorganisme lain menjadi berkurang. Selanjutnya media dimasukkan ke dalam polibag sampai ¾ volumenya. Menanam benih kentang yang telah dikecambahkan terlebih dahulu. Benih kentang yang telah berkecambah akan meningkatkan persentase pertumbuhannya karena media tanam yang digunakan miskin unsur hara. Biarkan benih tumbuh sampai berumur 2 minggu dengan melakukan penyiraman secara teratur menggunakan hand sprayer. Tahap selanjutnya adalah memasukkan starter mikoriza yang berupa akar yang bermikoriza di sekitar perakaran sebanyak 0,5 – 1 gram. Starter Mikoriza yang dicampurkan minimal mengandung 10-20 spora.

Kemudian Tahap pemeliharaan, tahap ini dilakukan sampai inang berumur ±2 bulan. Tanaman kentang diletakkan pada suatu tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari sambil sesekali dilakukan penyiraman dan pemupukan. Penyiraman cukup dengan menjaga kelembapan media tanam. Pemupukan juga dilakukan secukupnya, dengan memilih pupuk cair yang mengandung unsur P rendah.

Selanjutnya Tahap stressing yaitu suatu tahapan yang berupa usaha untuk menghambat atau menekan pertumbuhan tanaman inang dengan kondisi tertentu. Tujuannya yaitu untuk  memacu Mikoriza membentuk struktur tahan berupa spora. Spora inilah nantinya yang dapat dipanen dan menjadi sumber inokulum (starter mikoriza). Dilanjutkan dengan Topping yang dilakukan dengan hanya menyisakan batang bawah ± 1/4nya. Kondisi ini dikombinasikan dengan melakukan pemaparan tanaman inang di bawah bawah sinar matahari. Tahap terakhir adalah Pemanenan, tahap ini dapat dilakukan setelah tanaman inang mengalami stressing selama 1 (satu) bulan atau ± 3 (tiga) bulan sejak tanam awal. Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar tanaman inang dan mengambil bagian akarnya. Akar lalu dipotong kecil-kecil (± 0,5 cm) dan dicampur dengan media tanamnya. Selanjutnya kemas mikoriza beserta media tanamnya dalam kantong plastik dan siap untuk diaplikasikan sebagai pupuk hayati. Bila tidak langsung digunakan maka sebaiknya disimpan dalam lemari es.

 

 

 

BAB IV PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  1. Mekanisme simbiosis mutualisme antara Mikoriza dan tanaman kentang yakni membantu penyerapan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman kentang, khususnya unsur P dan N, sedangkan kentang  menyediakan unsur karbon yang dibutuhkan jamur untuk kelangsungan hidupnya.
  2. Upaya meningkatkan populasi Mikoriza pada akar tanaman kentang melalui beberapa tahap seperti tahap persiapan bahan, tahap produksi mikoriza, tahap pemeliharaan, tahap stressing dan tahap pemanenan.

 

5.2 Saran

  1. Diperlukan peran pemeritah daerah untuk melakukan penyuluhan tentang upaya meningkatkan populasi jamur mikoriza pada lahan pertanian masyarakat terutama pedesaan terpencil.
  2. Diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk meningkatkan populasi jamur mikoriza pada lahannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sumadi dan Abdullah Azis. (1999) Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula Dan Bio Nature pada Hasil Perbanyakan Kultur Jaringan Kentang (solanum tuberosum L) Saat Aklimatisasihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/18293

Diakses pada tanggal 01 Desember 2012

Kementrian pertanian . (2011) Penggunaan Mikoriza Pada Tanaman Kentang Di Dataran Medium Yogyakarta

http://epetani.deptan.go.id/budidaya/penggunaan-mikoriza-pada-tanaman-kentang-di-dataran-medium-yogyakarta-1879

Diakses pada tanggal 29 November 2012

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s